Minggu, 03 Oktober 2010

kelompok broadcasting semester 5 kpi 5c

JURNALISKTIK SIARAN RADIO DAN TELEVISI

A. Pengertian Jurnalistik
Jurnalistik (journalistic) secara harfiah artinya kewartawanan atau kepenulisan. Kata dasrnya “jurnal”, artinya laporan atau catatan, berasal dari bahasa Yunani kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran tercetak.
Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: sebagai proses, teknik dan ilmu. Sebagai proses, jurnalistik adalah ”aktifitas” mencari, mengolah, menulis dan menyebarluaskan informasi kepada publik memlalui media massa.
Sebagai teknik, jurnalistik adalah ”keahlian” (expertise) atau ”keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara. Yang dimaksud karya jurnalistik adalah berita (news) dan opini (views).
Sebagai ilmu, jurnalistik adalah ”bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (aplied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri.

B. Radio
Radio – tepatnya radio siaran (broadcasting radio) merupakan salah satu jenis media massa (mass media), yakni sarana atau saluran komunikasi massa (chanel of mass communication), seperti halnya surat kabar, najalah atau televisi. Ciri khas utama radio adalah AUDITIF, yakni dikonsumsi telinga atau pendengaran. ” Apa yang dilakukan radio adalah memperdengarkan suara manusia untuk mengutarakan sesuatu ” (Saturday review).
Media radio dipandang sebagai ”kekuatan kelima (the fifth estate) setelah lembaga eksekutif (pemerintah), legislatif (parlemen), yudikatif (lembaga peradilan), dan pers atau surat kabar. Disebut kekuatan kelima karena radio dianggap ”adiknya” surat kabar. Yang menjadikan radio sebagai kekuatan kelima antara lain karena radio memiliki kekuatan langsung, tidak mengenal jarak dan rintangan, dan memiliki daya tarik tersendirir, seperti kekuatan suara, musik, dan efek suara.
Komunikasi yang dilakukan radio seperti halnya di media massa lain, adalah komunikasi massa (mass communication), yakni komunikasi kepada orang banyak (massa, publik) dengan menggunakan media (communicating with media).
Meskipun kommunikasi yang dilakukan terggolong kommunikasi massa, namun ”gaya” kommunikasi di radio harus berupa kommunikasi personal atau antarpribadi (interpersonal communication) karena pendengar radio, meskipun banyak, harus dianngap hanya SEORANG individu layaknya teman dekat. Salah satu prinsip siaran adalah ” berbicara kepada seorang pendengar yang ada di depan kita”.
Karena termasuk media massa, radio juga memiliki karakteristik media massa sebagai berikut:
1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada publik, khalayak, atau orang banyak.
2. Universalis, pesannya bersifat umum tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa di berbagai tempat.
3. Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan.
4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus menerus sesuai dengan periode mengudara atau jadwal terbit.
5. Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru dan sebagainya.

C. Jurnalistik Radio
Jurnalistik radio adalah ”teknik proses pembuatan dan penyebarluasan informasi, khususnya berita, melalui radio dengan menggunakan suara dan bahaa lisan”.
Dibandingkan dengan jurnalisme media cetak dan televisi, jurnalistik radio memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan karakteristik radio itu sendiri, yakni:



1. Bahasa Tutur. Gaya penulisan jurnalistik radio menggunakan ”bahasa tutur”, bahasa obrolan, atau bahasa percakapan sehari-hari (spoken language, conversational langauge, every day speech). Radio is conversational media percakapan. Karakteristik bahasa tutur antara lain:
 Kalimatnya pendek-pendek
 Menggunakan kata-kata yang biasa diucapkan (spoken words)
 Satu ide satu kalimat-menghindari anak kalimat
 Sedapat mungkin satu kalimat bisa disampaikan pada satu nafas
 Tidak menggunakan kalimat langsung
2. Disuarakan. Teknis penyajiannya berupa suara, dibacakan, sesuai dengan sifat radio yang auditori (untuk didengar). Berita atau informasi yang disajikan di radio semata-mata mengandalkan SUARA. It’s all about sound! Semua pesan disampaikan dalam bentuk suara, tidak ada cara lain. Tidak ada gambar ataupun foto, bahkan pendengarpun tidak dapat melihat ekspresi wajah (facial expresion), gerakan tubuh (gesture). Maka, yang harus dilakukan adalah bersuara dengan JELAS.
3. Tidak dapat diulang. Informasi yang disampaikan penyiar atau pembaca berita tidak dapat diulang. Tidak seperti di media cetak yang bisa mengulang bacaan, pendengar tidak bisa kembali kepada bagian yang terlewatkan. Pendengar hanya memiliki satu kesempatan untuk mendengarkan berita. Karenanya, berita radio harus pasti benar, AKURAT, dan jelas sejak awal tidak ada kesempatan kedua.
4. Langsung. Dapat menyampaikan pendapat atau peristiwa yang sedang terjadi, juga pendapat nara sumber secara langsung.
5. Batasan waktu. Penulisan naskah dibatasi detik, menit, dan jam, namun bisa juga tidak terbatas, berbeda dengan media cetak yang dibatasi kolom atau halaman. Karenanya, sajian fakta dan data peristiwa dilakukan secara singkat atau garis besarnya saja, tidak detail. Sampaikan inti berita secepatnya, jangan sampaikan pengantar yang panjang.
6. Enak didengar dan mudah dimengerti. Penggunaan kaliamat singkat, padat, sederhana dan jelas sehingga memenuhi ”rumus mudah didengar” ELF (Easy Listening Formula), yaitu susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama.
Dalam hal teknis peliputan, wawancara, kode etik, nilai-nilai berita, dan struktur penulisan kalimat, jurnalistik radio pada dasrnya sama saja denga jurnalistik media massa pada umumnya. Perbedaannya, sebagaimana telah dikemukakan, hanya pada masalah penggunaan bahasa (tutur) dan teknis penyajian (suara).

D. Jurnalistik Televisi
Jurnalistik televisi merupakan paduan media komunikasi gambar (visual) dan suara (audio). Karena medium komunikasinya adalah gambar dan suara, dengan sendirinya terdapat perbedaan yang cukup tajam antara jurnalistik media cetak (print media) dan jurnalistik media radio (audio).
Secara umum mekanisme kerja di sebuah news room televise sama dengan isi mekanisme kerja di sebuah media cetak maupun radio. Dengan sedikit varian yang berbeda antara satu news room dari news room lainnya, rangkaian kerja di televisi meliputi tiga aktivitas pokok. Pertama, aktivitas news gathering. Kedua, aktivitas news production, dan ketiga, aktivitas news presenting.
Tidak perlu dijelaskan lagi secara panjang lebar disini mengenai proses news gathering televisi di sini karena para prinsipnya tidak ada perbedaan yang sangat mencolok dengan mekanisme news gathering media cetak maupun radio.
Hanya satu hal yang memang sangat perlu ditekankan bahwa dalam mekanisme news gathering televisi perencanaan yang dilakukan oleh para assignment editors agak berbeda dengan perencanaan yang dilakukan oleh para koordinator reporter media cetak maupun radio misalnya.
Derivasi teknis yang sangat berbeda itu adalah bahwa ketika sebuah kru televise turun ke lapangan, assignment antara gambar dan berita haruslah sinkron. Ekstrimnya, seorang assisgment editor harus memerintahkan krunya lebih penting untuk segera mendapatkan gambar ketimbang talking newsnya. Karena itu pada ekstrim yang lain, ketika pulang dari lapangan, seorang produser/eksekutif produser televisi tidak akan menanyakan “berita apa yang akan dibawa oleh kru dari lapangan” tetapi “ gambar apa yang anda bawa dari lapangan ?” pertanyaan ini mengindikasikan betapa gambar jauh lebih penting nilainya bagi televisi daripada kata-kata. News Value Judgment nya sangat tergantung pada seberapa penting, seberapa menarik, seberapa dramatis, dan seberapa kuatnya magnitude gambar yang diperoleh kru di lapangan. Itu pula yang menjelaskan mengapa sebuah atau beberapa berita yang tampak diutamakan penayangannya oleh Televisi belum tentu diutamakan oleh media cetak atau sebaliknya.
Hal yang karakteristik televisi adalah News Productionnya yang harus menggunakan bahasa tutur, bahasa gambar, menuliskan tentang gambar dan atau melaporkan tentang gambar. Tentu saja penggunaan bahasa tutur ini sangat banyak Implikasinya, terutama karena harus benar-benar Sinc (baca sinkron) antar gambar dan kata-kata dan atau kalimat. Karena itu, adalah kewajiban seorang produser atau Reporter untuk ‘meneliti’ atau ‘mempreview’ gambar terlebih dahulu sebelum menulis naskah: bukan sebaliknya menulis naskah dulu lalu ditempel-tempel gambar.
Televisi merupakan salah satu media massa yang mempunyai jangkauan komunikasinya sangat spektakuler dalam sepuluh tahun yerakhir ini, karena kekuatannya bukan hanya menyajikan acara dalam bentuk suara dan gambar, tetapi juga telah melahirkan konsep-konsep tayangan jurnalisme investigasi dalam pemberitaannya.
Untuk menuju jurnalisme investigasi televisi, kita tidak dapat tergantung dari peralatan canggih yang melekat pada televisi tersebut. Tetapi kemampuan profesional reporter agar lebih jeli dan tajam untuk membongkar atau mengungkapkan kasus, dalam setiap pemberitaan secara mendalam dan bukan hanya informasi sekilas.
Televisi kita memang masih belum mampu menyajikan fakta dan meyiarkan berita depth news, kemampuan reporter televisi kita hanya bisa berperan sebagai newsreader (pembaca berita) ketimbang menjadi newscaster (turun kelapangan mengejar dan meyelidiki suatu peristiwa). Faktor lain yang membuat pemberitaan televisi kita mandul yaitu adanya seperangkat aturan main yang terlalu ketat mengontrol pemberitaan yang dibuat oleh reporter.
Suatu hal yang perlu saat ini apabila media televisi kita mengarah ke jurnalisme investigasi reporting seutuhnya. Dalam artian lebih sensitif dan kualitatif dalam menyiarkan dan membuat berita. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa pemirsa televisi yang berada dalam lingkungan kota besar sudah mulai kritis dan selektif dalam memilih dan menonton berita yang disajikan televisi. Keingintahuan pemirsa mengetahui ada apa dibalik berita cukup tinggi.
Kemungkinan besar masa depan media televisis kita akan semakin mengarah kepada gaya jurnalisme investigasi reporting. Untuk membuat laporan berita investigasi memang tidak mudah, karena dibutuhkan kemampuan serta seperangkat ciri-ciri profesionalisme reporternya untuk selalu banyak memantau kejadian sosial, seta menganalisis perkembangan berita, kemudian melakukan pemburuan dan penyelidikan terhadap kasus berita.
















Daftar Pustaka
Wawan Kuswandi. Komunikasi Massa (Sebuah Analisis Isi Media Televisi), Jakarta:1996, PT Rineka Cipta
Asep Syamsul M. Romli. Broadcast Journalism, bandung:2004, Yayasan Nuansa Cendekia
http://jurnalistiktelevisi.dagdigdug.com/jurnalistik-televisi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
bekasi, jawa barat, Indonesia
sedang berproses, sederhana dan membumi. follow twitter: @ojiwae