Kamis, 04 April 2013

Akhlak dan Ilmu

Terkadang kita sangat gelisah dengan apa yang terjadi belakangan ini. Segala hal keburukan selalu ada setiap harinya, mulai dari korupsi, pemerkosaan, perpecahan, peperangan, penyerangan tempat ibadah, konflik agraria, tawuran pelajar, sampai keributan saat sidang parlemen. Tentunya ini sangat mengerikan bagi bangsa kita yang telah berikrar “bhineka tunggal ika”. Penyakit-penyakit social mulai dari pejabat sampai rakyat jelata selalu menghiasi hari-hari kita. Sampai kapan kita ma uterus-terusan gelisah memikirkan ini?.
Dalam pemikiran Imam Khamaini akhlak merupakan kepemilikan jiwa seseorang atas sifat-sifat tertentu (baik atau buruk) yang dari kepemilikan sifat tersebut memunculkan perbuatan secara mudah tanpa orang tersebut merasa terbebani. Artinya dari perbuatan-perbuatan yang kita tampilkan setiap harinya merupakan cerminan dari jiwa kita, apakah baik atau buruk. Tidak ada orang yang berkelakuan baik namun memiliki jiwa yang buruk maupun orang yang berkelakuan buruk namun memiliki jiwa yang baik.
Misalnya, seorang pejabat pemerintah. Dia selalu saja melakukan hal-hal buruk dalam lingkungan kerjanya. Datang terlambat, saat rapat tidur, sampai pada puncaknya dia melakukan sebuah perbuatan korupsi demi memenuhi nafsu dunianya, dapat dikatakan bahwa pejabat tersebut memiliki jiwa yang buruk, karena dalam jiwanya terdapat kumpulan-kumpulan sifat buruk yang membawa dia terbiasa melakukan hal buruk yang secara dia sadari.
Selalu menjadi pertanyaan dalam diri kita, dalam contoh di atas, bukankah orang-orang yang menjabat dalam pemerintahan atau bahkan bukankah setiap manusia memiliki ilmu?. Tetapi kenapa ketika manusia memiliki begitu banyak ilmu mereka masih saja melakukan kejahatan!. Yang selama ini kita ketahui ialah bahwa ilmu itu adalah cahaya sesuai dengan tuntunan yang ada dalam Al-Qur’an. Kemanakah keusucian ilmu tersebut?. Imam Khamaini menjelaskan bahwa hakikat ilmu adalah bersifat non meteri atau rohani. Karenanya tempat atau pemilik ilmu adalah jiwa atau rohani. Sehingga kita harus menyiapkan jiwa sedemikian rupa agar pengetahuan yang benar bisa diterima dengan benar dan baik. Jika kita memiliki jiwa yang buruk saat menerima ilmu yang benar, maka hasilnya pun akan menciptakan sebuah perbuatan yang buruk begitu pun sebaliknya. Maka dari itu dalam mencari perubahan sedemikian rupa, agar perbuatan buruk yang ada dalam diri kita dan lingkungan kita sedikit demi sedikit hilang, maka kita harus mempersiapkan jiwa kita terlebih dahulu agar memiliki jiwa yang bersih.
Dalam sejarah pola belajar mengajar kita terkadang keliru juga, sejak dini atau sekolah dasar kita telah dikenalkan istilah “carilah ilmu untuk menaklukan dunia”, atau “carilah ilmu sebanyak mungkin untuk memperbaiki diri kita”. Artinya ialah, ketika manusia telah menerima itu secara matang maka mereka akan menggunakan ilmu – yang dalam Al-Qur’an menyebutnya sebagai cahaya – untuk menaklukan dunia. Ketika ada yang menang berarti harus ada yang kalah. Akhirnya manusia dengan ilmunya yang luar biasa tersebut mencoba menghabisi dunia demi memenuhi kebutuhan dunianya. Ini yang sangat saya sayangkan.
Manusia dengan kemajuan ilmu dan modernisasinya mencoba menaklukan dunia dengan cara menselaraskan isi dunia dengan kemauannya sendiri. Kesombongan umat manusia yang amat sangat dahsyat. Ketika manusia ingin menaklukan dunia, lalu yang memiliki dunia Tuhan Semesta alam melawan dan menimbulkan berbagai macam bencana yang ditimbulkan maka umat manusia itu sendiri yang akan merugi. Disinilah dampak dari kesombongan yang telah mengakar sejak kita kecil tentang ilmu. Dan sampai saat ini, kita masih sangat merasakan akibat dari kesombongan kita tersebut. Bahkan bukan kita saja, namun anak cucu kita nanti juga akan merasakan kesombongan kita ini.
Lalu apa yang akan kita harus lakukan dalam melihat hal tersebut agar kelak nanti tidak terjadi lagi kemarahan pemilik alam ini, agar manusia, alam dan pemilik-Nya berjalan beriringan?. Ketika kita sudah tidak sanggup lagi mengubah pola pikir orang tua dan kawan seumuran kita, maka hal paling mudah kita lakukan adalah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para anak-anak yang ada di bawah kita. Jangan sampai kegelisahan kita, kecemasan kita hanya mengakar dalam hati saja. Kegelisahan kita dan kecemasan kita ini harus kita tuangkan dalam aksi nyata. Karena dalam diri anak-anak, mereka akan melakukan apa yang akan mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka lihat.
Intinya hal paling dasar yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan perubahan yang lebih baik yang akan terjadi nanti adalah dengan mempersiapkan para generasi mendatang memiliki akhlak yang baik, agar saat mereka menerima ilmu – yang tempatnya ada dalam jiwa – dapat diaplikasikannya dengan baik. Inilah yang dilakukan oleh Imam Khamaini dalam memulai revolusi Iran. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.
Wassalam…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
bekasi, jawa barat, Indonesia
sedang berproses, sederhana dan membumi. follow twitter: @ojiwae