Senin, 13 Agustus 2012

Jokowi dan Peluangnya diputaran Kedua Nanti

Pilkada DKI di putaran ke dua nanti semakin menarik perhatian. Setelah diputaran pertama kemarin pasangan Fauzi Bowo/Nahcrowi Ramli kalah telak dari pasangan Jokowi/Ahok. Dan semakin berkembangnya isu SARA yang dimainkan oleh salah satu pasangan untuk menyerang pasangan lainnya membuat pilkada DKI ini semakin memanas. Kini kubu Foke telah meraih dukungan dari partai-partai besar dalam putaran ke dua nanti. Golkar dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang diputaran pertama kemarin ikut melawan kekuasaan Foke kini bersatu ke genggaman Foke, dan terakhir yang cukup mencengangkan adalah sikap PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang di periode lalu duel langsung dengan Foke dan diputaran pertama kemarin kembali melawan kekuasaan Foke kini ikut dalam genggaman Foke. Koalisi blocking untuk menjadikan Foke DKI 1 kini kembali terjadi seperti periode pilkada yang lalu hanya kini lawannya saja yang berbeda.

Melihat begitu besarnya dukungan partai politik untuk menjadikan Foke kembali sebagai gubernur Jakarta sangat mengejutkan. Mengingat kinerja Foke yang selama ini terlihat gagal membuat DKI ke arah yang lebih baik terabaikan. Dengan menghitung hasil suara Foke di putaran pertama kemarin dan apabila dijumlahkan dengan bergabungnya beberapa lawan yang kini menjadi kawan kira-kira Foke sudah mampu meraih suara lebih dari 45 % di putaran kedua nanti. Jumlah ini sudah melampaui perolehan suara Jokowi di putaran pertama. Satu langkah kemenangan Foke di putaran kedua telah terlihat.

Lalu bagaimana melihat peluang Jokowi dalam putaran kedua nanti! Jokowi yang gagal melakukan deal-deal politik dengan para pesaingnya dipuataran pertama kemarin kini hanya mengaharapkan kedewasaaan para pemilih nanti. Jokowi yang selama ini mengaku berkoalisi dengan rakyat cukup tenang-tenang saja melihat kubu Foke berhasil menggaet partai-partai besar diputaran kedua nanti.

Apa yang terjadi diputaran kedua nanti?

Telah lama kita menharapkan pemimpin yang merakyat yang sering terjun langsung melihat keluhan masyarakat. Telah lama kita berharap Jakarta memiliki pemimpin yang bisa membawa perubahan berarti untuk kepentingan masyarakat. Banjir dan macet menjadi masalah besar yang harus segera diselesaikan oleh calon pemimpin masa depan nanti. Kini warga Jakarta bulan September nanti memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan yang berarti yakni dengan menentukan siapa yang akan mereka pilih untuk menjadi pemimpin di lima tahun kedepan. Peta perpolitikan kini semakin jelas, hanya tinggal dua calon pasangan gubernur dan wakil gubernur yang tersisa. Semoga mampu memudahkan sikap pemilih dalam menentukan pilihannya.

Jokowi merupakan satu sosok yang memiliki kesederhanaan dalam berpolitik. Dialah pemimpin yang selama ini kita cari. Dia mampu terjun langsung ke masyarakat dengan mendengar segala keluh kesah yang dirasakan oleh warganya. Ini telah terlihat di kota Solo yang telah dua periode dia pimpin. Masyarakat sana mampu terwakilkan dengan gaya asketisme politiknya. Asketisme politik secara sederhana seperti yang pernah saya baca dalam tulisan Gun-gun Heryanto merupakan upaya menjalankan aktivitas berpolitik berdasarkan atas prinsip kesederhanaan dan etika serta memproyeksikan tindakannya demi kemaslahatan rakyat banyak. Cara berpolitik seperti inilah yang selama ini kita harapkan di Indonesia dan lebih khususnya wilayah Jakarta saat ini. Dan itu telah terlihat dalam diri Jokowi.

Dalam melihat koalisi besar yang digalang kubu Foke untuk menghadapi putaran dua nanti seharusnya kubu Jokowi jangan panik. Kekalahan telak Foke diputaran pertamalah yang membuat dia bekerja mati-matian dalam meraih dukungan berbagai kubu demi mempertahankan kekuasaannya. Secara matematis kubu Foke menang satu langkah namun mereka lupa berapa total sauara yang golput diputaran pertama kemarin yang mampu menjadi sumber suara untuk meraih DKI 1.

Kemenganan Jokowi diputaran pertama kemarin dan melihat kinerja politik Jokowi yang dekat dengan rakyat mampu membawa suara golput ini untuk menggunakan hak pilihnya di putaran kedua nanti. Suara golput sangat berat ketika dia harus beralih dan menggunakan suaranya untuk mendukung Foke. Mereka golput karena mereka kecewa kepada kepemimpinan Foke selama ini dan akhirnya menimbulkan sikap apatis terhadap politik. Kini setelah melihat hasil diputaran pertama kemarin dan melihat cara-cara kotor yang digunakan oleh kubu salah satu pasangan untuk menyerang pasangan lainnya semoga mereka bergerak hatinya dan menggunakan hak pilihnya untuk melakukan perubahan.

Persuasi politik yang dilakukan Jokowi terlihat cukup elegan. Jokowi malah tidak menggunakan cara yang akan menyebabkan perpecahan di masyarakat sendiri. Seperti yang dijelaskan di atas Jokowi sangat dekat dengan rakyatnya. Bandwagon effect akan terjadi di putaran kedua nanti bagi para golput untuk menggunakan hak pilihnya. Bandwagon effect adalah kecnederungan seseorang malakuakan sebuah tindakan karena melihat begitu banyaknya mayoritas melakukan melakukan tindakan tersebut. Atau juga dalam dunia politik bandwagon effect adalah kecenderungan memilih karena melihat keberhasilan suatu pemimpin. Hal-hal seperti inilah yang akan membawa suara golput untuk menggunakan hak pilihnya diputaran kedua nanti untuk memilih Jokowi.

Kini saatnya DKI berbenah dan menuju perbaikan dijalur yang bersih. Keberhasilan Jokowi di Kota Solo wajib dilakukan juga di Jakarta. Dengan masuknya suara golput ke Jokowi sudah mampu mengalahkan Foke bersama koalisinya diputaran kedua nanti. Jokowi tidak perlu koalisi dengan banyak partai karena dia sudah dekat dengan masyarakat dan pembawaannya yang berhasil membangun Solo menjadi saksinya.

Salaaaammm…....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
bekasi, jawa barat, Indonesia
sedang berproses, sederhana dan membumi. follow twitter: @ojiwae