Minggu, 19 Januari 2014

Nyali Juang dalam Tika

“Kamu akan kembali ke dalam sana lagi?” Tanya Tika memecah keheningan, ketika sore telah beranjak naik ke atas pangkuan bumi. Di saat kesibukan telah pudar dalam kegelisahan anak muda. Hujan turun penuh malu, rintiknya sedikit tak menimbulkan riak dipermukaan tanah. Anginnya syahdu tak begitu kencang dan mata pun semakin sayu bagi yang tertimpanya. Badan sudah pada mulai lelah semua. Pikiran ingin sekali diistirahatkan. Kegiatan mahasiswa saat seperti ini begitu banyak. Pemilhan ketua BEM yang baru akan segera dilaksanakan dalam hitungan hari. Semua kelompok kemahasiswaan menyiapkan calonnya. Begitupun dengan mereka mahasiswa-mahasiswa non-kelompok yang kini ikut meramaikan opini ke permukaan, mereka ingin calon perseorangan mulai diberikan kesempatan untuk bertarung dalam perebutan kursi kekuasaan.

“Kawan-kawan sudah banyak yang menyingkir, mereka lelah dan merasa percuma. Aku mencoba menegaskan kepada mereka semua, bahwa jangan sampai hal ini terjadi terus menerus. Kita harus menyuarakan sebuah perbedaan dalam peradaban politik kampus kita.” Jawab Juang, sembari menenggak air mineral dihadapannya. “Kelompok di dalam sana semakin kuat, tiap tahun mereka merekrut kader baru, ingat sebatas kader, pengetahuan mereka akan kelompok mereka sedikit, dan kesadaran politik mereka sangat rendah. Mereka direkrut hanya untuk melanggengkan kekuasaan bodoh di kampus kita. Terlebih di Fakultas kita ini. Sedangkan kelompok yang lain kehabisan strategi, mereka sudah tak berniat mengambil alih Fakultas kita dari penguasa lama.” Panjang Juang berargumen di depan teman-temannya.

Sementara itu, banyak sekali mata-mata yang terus mengawasi pembicaraan mereka. Tiap kali ada mahasiswa yang lewat, mereka selalu memasang kuping dan mata mereka. Memperhatikan siapa saja mereka dan menguping apa yang sedang mereka bicarakana.

Asap rokok keluar dari beberapa sekeliling Juang. Mereka semua mencoba mengambil nafas, sebuah udara pengharapan diantara kelesuan yang sudah mulai menganga. Tika beberapa kali menatap mata Juang, seakan memberikan sebuah kepastian dalam sebuah kepaitan. “Ia akan selalu bersamanya, dalam keadaan bagaimanapun” itulah isyarat yang terbaca dari tatapan tersebut. Sedangkan Juang masih menimbang-nimbang keyakinan kawan-kawannya, terutama juga keyakinan dirinya.

“Lalu langkah apa yang akan kita ambil? Mengajak kelompok lainnya bergabung, atau kita akan berjalan sendiri dengan menyiapkan sebuah kekalahan bagi kita semua.” Ucap salah satu kawan, sambil menikmati kopi hitam yang sudah dingin karena sudah termakan oleh hitungan menit demi menit yang menyiakan kehadirannya. “Kopi ini sudah tak ada rasanya. Seperti kalimat-kalimat kita.” Tambahnya.

“Kelompok lain tak mungkin bergabung, mereka hanya berniat memecah suara di Fakultas saja. Tujuan mereka ialah memenangi kantong suara di daerah kekuasaan masing-masing dan mengambil alih tampuk kepemimpinan tingkat Universitas. Teteua mereka membiarkan kita bersuara karena mereka berharap anak-anak muda seangkatan kita akan terpecah suaranya. Tidak fokus pada kelompok lama saja. Mereka tertarik akan keberanian kita. Itu saja perhatian mereka pada kita.” Kawan lainnya bersuara, mengambil haknya untuk menyampaikan pendapat, memasang wajah keyakinan ketika berargumen, sambil berharap dianggap ia memang layak masuk dalam barisan “pemberontak” dan bukan sekedar penghibur belaka.
“Peta kita sudah kalah, Juang sudah terusir dari dalam sana (sambil menunjuk ruangan kecil di pojok gedung fakultas). Pergerakan kita semakin diawasi oleh musuh-musuh utama kita. Dan kita hanya dimanfaatkan oleh “kawan” kita. Posisi ini semakin membuat kita sulit di dalam “rumah” sendiri.”

“Modal itu kita bisa manfaatkan.” Potong Tika. “Kita bisa memnyebarkan selebaran tulisan yang mengaitkan kelompok ini yang terus diawasi oleh musuh utama kita. Sambil menuliskan bahwa kelompok ini menjadi opsi utama sebuah perubahan dalam ranah politik Fakultas kita, karena sudah menjadi common enemy bagi para penguasa lama.” Saran Tika. Tika begitu tampak tertarik dengan pergerakan ini. Selain ia juga memang banyak belajar dari Juang kekasihnya tersebut, ia juga sangat suka membaca literatur-literatur politik.

“Kita harus mengikuti saran Tika, kita harus memanfaatkan keadaan ini untuk menarik suara-suara gamang teman-teman kita. Sambil menyematkan kelompok ini sebagai kelompok yang kian terancam keberadaannya, karena dianggap mampu menggoyang kekuasaan lama dalam Fakultas, kita harus yakin teman-teman kita akan memberikan simpati kepada kita. Dan mereka perlahan akan berada dalam barisan ini. Sambil menunggu akan datangnya perubahan dalam susunan kemahasiswaan fakultas tercinta ini. Kita yakin, mereka sebenarnya sama gelisahnya dengan kita, namun karena belum adanya suara yang memulai, jadi mereka masih malu-malu untuk menuntut hal tersebut. Jangan sampai Fakultas kita hanya menjadi roda perputaran keuntungan sebuah kelompok saja. Duit yang tak jelas ujungnya kemana, dan juga yang lebih penting, suara kritis mahasiswa terhadap kebijakan fakultas, kampus, dan pemerintah semakin menipis. Malam ini kita buat selebaran propaganda tersebut, jangan sampai cita-cita kita ini tertunda.” Ucap Juang.

Malam mulai menggelapi halaman utama fakultas tersebut. Suara mereka semakin jelas arah dan tujuannya. Juang terus memimpin diskusi pergerakan tersebut. Gairah muda mereka menjadi mesin utama gerekan tersebut. Kemarahan mereka menjadi penguat kehadirannya. Dan gagasan mereka menjadi senjata utama serangan mereka menghancurkan tirani. Kolonisasi kelompok mahasiswa dari satu kepentingan saja membuat mereka berkumpu. Mahasiswa kini hanya digrogoti oleh kepentingan politik dan ekonomi satu kelompok saja. Mahasiswa telah kehilangan “kesuciannya.” Hampir semua kelompok ekstra mahasiswa di kampus mereka memiliki afiliasi dengan partai politik nasional. Dan mereka kerap kali terjebak dalam romansa tersebut. Menghilangkan hak mereka untuk berusara kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Dan di kampus, kelompok-kelompok tersebut hanya menjadi ajang untuk memuluskan langkah mereka kedepannya, agar setelah lulus mereka mendapatkan kemudaha birokrasi dalam mencari posisi pekerjaan. Organisasi hanya sebatas tersebut. Tidak lebih. Dan inilah yang sedang dilawan oleh Juang dan kawan-kawannya di saat mentari mulai meredup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
bekasi, jawa barat, Indonesia
sedang berproses, sederhana dan membumi. follow twitter: @ojiwae