Rabu, 11 Februari 2015

Ketika Waktu Menjawab

Jam masih menunjukkan pukul 9 lewat 15. Aku sudah sampai kampus. Ini masih sangat pagi untuk mahasiswa seperti ku. Sudah dua belas semester ku kuliah, namun belum juga menemui kata lulus. Skripsi yang tertunda-tunda dan kesibukan di luar kampus membuatku seperti ini.

Mencari-cari buku bacaan yang menarik selalu menjadi rutinatas masa-masa seperti ini. Perpustakaan masih sangat sepi saat-saat seperti ini. Yang kuliah masih pada sibuk di dalam kelas, sedangkan yang sedang menyusun skripsi masih terlalu pagi untuk memulai kehidupan. Barangkali hanya aku yang ada di sana kala itu yang sudah semester sebelas, sisanya tak tahu untuk apa mereka ada di sana.

Duduk menghadap jendela merupakan salah satu kesukaanku. Dihadapannya ada gedung Fakultas Sains dan Teknologi dan juga Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Bukan untuk melihat pemandangan gedung itu, melainkan agar mataku bisa menatap suasana yang lebih segar ketimbang menghadap dinding-dinding perpustakaan. Ku buka buku-buku yang sedang ku pelajari selama ini. Mencari-cari pengetahuan baru merupakan petualangan yang nikmat dalam diri ini. Sungguh aku tak menyesal dengan kelambatan kelulusanku.

Teman-teman seangkatan sudah banyak yang diwisuda. Mereka kini sibuk bekerja dan mencari kerja. Namun ada juga teman yang senasib sama seperti ku. Masih berkutat dengan dunia kampus. Mencari-cari apa yang banyak orang tak cari. Menemui apa yang banyak orang benci. Begitulah kehidupan, saling mengisi.

Hampir setengah jam ku di sini. Membuka halaman demi halaman. Memahaminya, lalu mencatat bagian-bagian pentingnya. Tanpa sadar sudah ada seseorang duduk disampingku. Entah kenapa dia memilih bangku di deretan yang sama denganku. Mungkin dia juga merasa jenuh ketika harus memilih bangku yang menghadap dinding perpustakaan, tak ada warna, menghentikan imajinasi. Atau mungkin … ah sudahlah tak baik menerka-nerka.

Buku-buku dihadapannya begitu banyak. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard lap topnya. Matanya melotot memperhatikan kalimat demi kalimat yang sedang ia ketik. Kadang juga tangannya sibuk mencoret-coret naskah yang dibawanya. Kembali ku duga, ia sedang sibuk mengerjakan revisi skripsi yang telah diperiksa oleh dosen pembimbingnya. Mengejar target kelulusan demi menikmati dunia baru sebagai sarjana.

Lalu ku alihkan pandangan ke sekitar. Perpustakaan masih sama, tampak sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Sementar pukul sebelas masih amatlah lama. Jadilah ku tenggelam di sini. Membuka dunia baru, menyaksikan seorang perempuang yang sedang giat skripsi, dan menikmati perpustakaan yang sunyi sepi.

*

Kembali ku janjian dengan kawanku untuk segera bertemu di kampus. Kemarin ia gagal datang. Ada banyak alasan yang dia berikan. Ku memakluminya. Mungkin dirinya sedang dalam keadaan mendesak sehingga tak jadi menemuiku.
Sama seperti kemarin, ku datang lebih awal. Duduk manis di tempat biasa dalam perpustakaan. Melanjutkan bacaan yang sedang ku pelajari. Mencatatnya, dan kadang pula memasukkannya dalam skripsiku.

Ku lihat gadis yang kemarin sudah datang mendahului ku. Duduk dibangku yang sama. Dan entah kenapa, ku juga memilih bangku yang sama seperti kemarin. Kamipun kembali bersampingan.

Masih sama, seperti kemarin. Buku-bukunya masih menumpuk. Mencari referensi tambahan untuk skripsinya. Tenggelam dirinya dalam lautan ilmu.

Beberapa saat dia membuka obrolan, “Suka juga duduk di deretan ini?”

Lantas ku menoleh menatap raut wajahnya. “Ia suka”. Dia tersenyum. Lalu kulanjutkan menjawab, “Duduk di sini enak, pandangan kita tak terhenti sebatas menatap dinding perpustakaan yang akan membuat kita bosan.”

“Aku pun seperti itu, dan imajinasi kita akan lebih banyak bekerja karena bisa menatap langit biru”, jawabnya.
Tanpa ku tanya terlebih dahulu, dia pun menjawab pertanyaan yang dia berikan kepadaku. Begitulah awal kami mengenal. Kami mencoba mengobrol, saling kenal satu sama lain. Sampai akhirnya ku tahu, dia anak semester 8 Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

*

Sudah hampir seminggu ku tak sibuk dengan kegiatan di luar kampus. Kesibukan di luar membuatku hanya menyempatkan dua kali dalam seminggu untuk ke kampus. Pertama ialah untuk bimbingan jika sempat, dan yang kedua ialah untuk mencari bahan bacaan baru. Hari ini ku dijanjikan untuk bimbingan oleh dosen pembimbingku. Ku turuti perintahnya. Dan seperti biasa, ku datang lebih awal dan kini kembali ku menemui gadis tersebut di bangku yang sama dalam perpustakaan.

“Sudah hampir seminggu kau tak berkunjung ke sini.” Dirinya membuka obrolan, seakan ingin mencari tahu.
Sambil merapikan penampilanku, “ada kesibukan di luar yang tak bisa ku tinggal” jawabku.

“Tentang apa?” dirinya kembali mencoba mencari tahu.

“Nanti kau pun mengetahuinya, jika kau tak bosan mengenal diriku.”

Dia pun tersenyum mendengarnya. Dan kami pun kembali ngobrol sana-sini sehingga lupa untuk mengerjakan skripsi.

*

Waktu terus berlalu, skripsinya Dea pun sudah hampir selesai. Tinggal menunggu persetujuan dari dosen pembimbingnya untuk segera disidangkan. Sedangkan aku, aku masih sibuk dengan segala sesuatunya, yang tak memiliki hubungan dengan skripsi.

Dea mengenal ku lebih jauh. Ia pun mengerti apa yang sedang ku jalani. Kami bertemu hanya dua kali dalam seminggu di kampus. Lebihnya, dia lebih sering mengunjungiku. Di tempat ku menjalani kehidupan.

“Kamu harus cepat selesai, biar apa yang sedang kamu jalani kini lebih bermakna dan tak terganggu dengan skripsi mu.”

Pintanya kepadaku. Ku tahu, dia ingin sekali melihatku lulus barengan dengannya.

Ku diam sesaat. Mencoba memberi jeda agar tak ada beban dalam diri ini. “Itu semua sedang ku usahakan.”

“Lebih cepat lebih baik untuk kamu, untuk mereka dan juga untuk kita.”

“Kita” mendengar kata itu membuatku sedikit teriris. Dea sudah sangat dekat denganku. Itu yang tak pernah ku sadari sebelumnya. Memang, Dea selalu bicara “kita” untuk menjalani masa depan. Bukan hanya masa depannya, tapi juga ada aku di masa-masa yang ia impikan tersebut. Ku mulai takut pada saat itu. Takut kehilangannya dan juga takut aku tak bisa mewujudkannya.

*

Dea akhirnya wisuda, sedangkan aku baru mau memasuki masa sidang skripsi. Aku hadir di acara wisudanya. Dikenali dengan keluarganya. Sungguh, melihat mahasiswa diwisuda ada rasa tersendiri yang memotivasi diri untuk segera lulus kuliah. Mereka tampak bahagia, apalagi disaksikan oleh orang-orang tercinta. Saat itu Dea resmi menyandang gelar sarjana. Di semester sembilan dia sudah bisa membahagiakan orang tuanya.

Aku ikut pulang kerumahnya. Syukuran kecil-kecilan bersama anggota keluarganya. Berkenalan dengan mereka merupakan dunia baru yang ku jalani. Namun ada sedikit beban dihati. Malu, karena belum bisa seperti Dea yang mereka banggakan.
“Kamu kapan lulus? Sudah semester 13 belum juga selesai menyusun skripsi. Apa nanti kesibukanmu mengajar anak-anak jalanan dan juga menulis mampu menghidupi keluargamu.” Ayahnya Dea tiba-tiba bicara seperti itu, disela-sela kebagagiaan anaknya. Tentu saja itu memukul perasaan yang amat dalam. Dihadapan Dea, aku diam tak bicara mendengar pertanyaan seperti itu. Ayahnya pun tampak kecewa dan masuk ke dalam dan berkumpul dengan yang lainnya. Sedangkan aku masih terpaku diam dan hanya kekasihku yang mendampingi.

Dea menatapku dalam. Seakan tak mau hanya aku yang merasakan beban seperti itu. Dia mencoba menemani ku. Tak tega melihat kekasihnya tenggelam dalam kebisuan.

“Kau jalani saja duniamu sambil berusaha untuk lulus kuliah.” Dea menatapku dalam-dalam. “Apapun yang terjadi aku tetap di sini di sampingmu. Apa yang kau jalani adalah kemuliaan. Aku sayang kamu.” Ucapnya sambil menggenggam tanganku. Ku lihat raut matanya penuh ke syahduan, air matanya pun menetes. Tak kuasa ku melihat penerimaannya kepada ku yang begitu luar biasa.

“Begitulah kiranya, ketika teman hidup sudah diturunkan oleh Tuhan, dia akan menerima ku apa adanya tanpa penolakan dan tanpa butuh pembelaan apapun.” Pikirku dalam hati, di bawah basuhan air kecintaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
bekasi, jawa barat, Indonesia
sedang berproses, sederhana dan membumi. follow twitter: @ojiwae