Senin, 09 Februari 2015

Siapa Sponsor Persija?

Sudah hampir beberapa musim Persija Jakarta sangat kesulitan mendapatkan sponsor utama untuk menjalani Liga Super Indonesia. Dampak dari kegagalan ini cukup signifikan, Macan Kemayoran kerap kali mengalami permasalahan yang sama di setiap musimnya, yakni telatnya pembayaran gaji. Dampak lanjutannya ialah pemain-pemain yang telah matang bermain untuk tim asal ibu kota ini pergi mencari klub baru. Di musim ini berbeda, dampak lanjutan yang diterima Persija dari tak adanya sponsor membuat PSSI mengultimatum skuad asuhan Rahmad Darmawan akan diberikan sanksi yang tegas, berupa pengurangan jumlah pemain dan pelarangan penggunaan pemain asing.

Padahal, musim ini disebut-sebut sebagai musim yang akan mengembalikan kejayaan Macan Kemayoran. Dibalik permasalahan yang melilit, manajemen justru berhasil mendatangkan pemain-pemain bintang dalam skuad kali ini. Bambang Pamungkas, Greg Nwokolo dan M. Ilham dibawa pulang kembali. Kabaev dan Martin Vunk bintang asal Estonia didatangkan dengan biaya yang cukup mahal. Anggota pemain timnas U-23 diboyong ke dalam skuad tim kebanggaan Jak Mania.
Hal ini menjadi sorotan utama PSSI. Mereka meminta proyeksi pendapatan untuk menjalani musim depan. Akhirnya, sampai saat ini manajemen belum mampu menjawab sorotan dari federasi. Ini sungguh aneh, karena musim lalu Ferry Paulus masih menyisakan hutang kepada para mantan pemainnya. Terakhir untuk mengatasi itu semua, Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta akhirnya berinisiatif untuk menyelamatkan Macan Kemayoran dengan mengambil seluruh saham mayoritas. Ini harapan yang cukup menyenangkan agar terhindar dari sanksi PSSI.

Kenapa di kota sebesar Jakarta, manajemen Persija sulit sekali mendapatkan sponsor? Jawaban sebenarnya ialah dari manajemen tersebut, apa mereka serius bekerja atau memang kesulitan dalam mencari sponsor. Perusahaan yang ada di Jakarta tentulah bukan yang cakupannya hanya masuk ke dalam pasar nasional semata. Perusahaan yang bermain di Jakarta ialah mereka yang sudah mantap memasuki pasar internasional. Rata-rata mereka yang datang ke ibu kota sudah pasti memiliki cabang-cabang di seluruh Indonesia dan juga luar negeri. Inilah yang membuat mereka lebih mementingkan iklan lewat media massa terutama TV ketimbang menjadi sponsor sebuah klub sepak bola.

Prestasi yang dihasilkan Macan Kemayoran selama ini belumlah menarik minat mereka. Karena tim asal ibu kota bermain di level nasional belum memasuki kompetisi level Asia. Perusahaan Multi Nasional tentulah mengharapkan sebuah klub yang menjanjikan di turnamen yang bermain di level tinggi bukan sekedar di kompetisi dalam negeri semata. Sebuah perusahaan tentulah melakukan riset seperti ini terlebih dahulu sebelum bersedia menjadi sponsor sebuah kesebelasan. Cost yang sudah mereka keluarkan dalam iklan TV sudah sangat efesien ditambah lagi dengan adanya anak-anak cabang yang menyebar diseluruh wilayan Indonesia.

Jangan membandingkan Persija dengan tim-tim daerah lainnya. Di daerah lain, banyak perusahaan lokal yang tumbuh dengan pangsa pasar yang sesuai dengan kondisi perekonomian penduduknya. Mereka tak memiliki cabang-cabang yang menyeluruh di level nasional, sehingga pemasaran dengan mensponsori klub lokal ialah cara yang efesien ketimbang melalu TV dengan biaya yang sangat mahal.

Lihat saja ada banyak bank-bank lokal yang masuk menjadi sponsor utama sebuah klub sepakbola. Ada dua hal yang mesti dilihat, pertama saham klub tersebut masih dikuasai oleh pemerintah daerah setempat. Sebagai pemilik saham mayoritas, mereka merasa memiliki hak untuk memasang logo badan usaha milik daerah pada jersey klub. Yang kedua adalah kondisi penduduk dan sebaran ekonominya. Contohnya adalah rival dari Persija sendiri. Sebaran penduduk Jawa Barat yang begitu banyak dan wilayah yang cukup luas membuat banyak perusahaan ingin menjadi sponsor mereka. Persib yang sangat identik dengan suku Sunda mampu menjadi identitas yang mengikat mereka. Apapun yang terjadi pada klub asal Bandung tersebut akan menjadi perhatian utama bagi para pendukungnya.

Makanya saat ini manajamen Persija mengeluarkan jargon #GuePersija. Cara ini adalah untuk mendekatkan mereka dengan para supporter dan juga dengan penduduk Ibu kota lainnya.

Yang terpenting dari ini semua adalah revolusi citra yang harus dilakukan oleh para Jak Mania. Masih ada sebagian kecil dari mereka yang kerap kali melakukan hal-hal yang merusak nama baik tim kebanggaannya sendiri. Ingat, di Jakarta merupakan kantor-kantor pusat setiap perusahaan yang ada di negeri ini. Mereka menyaksikan langsung apa yang terjadi di luar stadion jika Macan Kemayoran berlaga. Mereka merupakan para pengambil keputusan kepada siapa perusahaan mereka harus dekat dengan sebuah klub. Berbeda dengan daerah lain yang tak pernah terekspos oleh media nasional tentang perilaku supporternya. Sehingga citra yang tersampaikan hanya ada di dalam stadion melalui media TV.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
bekasi, jawa barat, Indonesia
sedang berproses, sederhana dan membumi. follow twitter: @ojiwae